Wong Cilik Nangis Darah

14 05 2008

miris rasanya melihat rakyat semakin menderita…

Kolom
Wong Cilik Nangis Darah
Djoko Su’ud Sukahar - detikcom

Jakarta - Di Jawa Tengah, seorang tukang becak yang miskin meracun dua anaknya yang masih kecil-kecil. Satu anak terselamatkan, sedang yang paling kecil nyawanya tak tertolong. Sang bapak berbuat nekaT bukan karena tak sayang anak. Justru sebaliknya. Ia tak tega melihat anaknya yang lucu-lucu itu menderita akibat kemiskinan ayahnya.

Di Bogor, seorang ibu nekad bunuh diri. Ia terhimpit masalah ekonomi, dan tak mampu membayangkan bagaimana periuk keluarganya jika kabar bakal naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM) benar-benar direalisasi pemerintah. Dengan seutas tali ibu ini mengakhiri hidupnya di tiang gantungan.

Di tengah kabar yang menyayat hati itu, berita penyelundupan dan penimbunan BBM marak dimana-mana. Dari beberapa daerah dikabarkan, kebutuhan pokok di pasaran ramai-ramai beralih harga. Ditambah riuhnya aksi protes mahasiswa yang meminta pemerintah membatalkan ‘niat buruknya’, maka lengkap sudah indikator negeri ini menuju chaostis .

Berbagai peristiwa itu perlu menjadi perhatian pemerintah. Ini merupakan sinyal kongkret, bahwa kenaikan BBM sama dengan membuat semuanya susah. Itu belum jika BBM benar-benar naik. Tak terbayangkan jerit tangis yang bakal terjadi di seantero negeri ini.

BBM memang segalanya. Itu urat nadi perekonomian. Jika digoyang, maka akan terjadi kegoncangan. Efek domino dari BBM tak terelakkan. Ia hanya pemicu. Sumbu dinamit untuk meledakkan semua yang terkait.

Sebenarnya kalau mau, pemerintah bisa melakukan langkah lain. Ada banyak cara untuk mengatasi defisit akibat kenaikan harga minyak dunia. Semboyan ‘Kita Bisa’ jangan hanya dipakai sebagai slogan. Itu bisa direalisasi, tergantung political will pemerintah. Sebab kita ini tidak miskin-miskin amat.

Kita sebut bisa, karena itu sudah dibuktikan tetangga kita yang juga miskin, Negara Srilanka. Negeri yang terus perang itu mampu memberi pengobatan dan pendidikan gratis bagi rakyatnya. Negeri itu juga bisa memberi subsidi tambahan bagi keluarga yang anaknya masuk perguruan tinggi.

Tapi kita, hanya dengar-dengar kabar saja ada sekolah gratis. Juga pengobatan free, itu hanya dilakukan ‘oknum’ tertentu di Puskesmas terbatas. Disebut oknum, karena mayoritas tidak mengenakan bayaran pada pasien miskin, tetapi memungut sumbangan. Sami mawon.

Kalau pemerintah terpaksa harus melakukan terobosan, sita aset para koruptor. Naikkan cukai rokok sampai lima ratus persen, karena rakyat tidak bakalan mati karena tidak merokok. Naikkan fiskal agar tidak banyak orang kaya menghambur-hamburkan uang di luar negeri.

Buka perjudian legal untuk menghindari capital flight dan mengeruk uang para penjudi asing. Dan jika amat-amat terpaksa, jual beberapa pulau yang tak mampu diurusi. Toh diawasi pun Sipadan dan Ligitan migrasi ke Malaysia. Sedang Timor Timur dan Ambeno memerdekakan diri.

Rakyat kita sudah capek miskin. Dan buat apa kita miskin di tengah kekayaan yang digembar-gemborkan melimpah itu. Ini seperti ayam yang mati di lumbung padi. Adakah pemerintah memang sedang mempraktekkan ironi itu?

Para pemimpin, sudahlah ngurus negara jangan sulit-sulit. Ini bukan soal matematika. Niatkan untuk membahagiakan rakyat. Niatkan untuk menyenangkan rakyat, dan lakukan itu.

Jangan buat wong cilik nangis darah. Jangan menyusahkan rakyat dengan membuat kebijakan yang tidak bijak. Sebab kita sendiri belum tahu, adakah Indonesia masih ada di seratus tahun ke depan. Nihilis? Mungkin !

Keterangan Penulis:
Djoko Su’ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. ( iy / iy )

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/14/time/083303/idnews/939067/idkanal/10





Perempuan Ingin Bus Trans Khusus

4 04 2008
JAKARTA - Rencana BLU Transjakarta mengoperasikan bus khusus bagi perempuan mendapat respons positif. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Institut Studi Transportasi (Instrans), dari 853 responden perempuan yang biasa menggunakan angkutan massal, sebanyak 769 responden atau 90,2% setuju dengan rencana pengoperasian bus Transjakarta khusus untuk wanita.Sedangkan 48 respondenatau 5,6% tidaksetuju, dan 36 responden atau 4,2% menyatakan ragu-ragu.”Hasil survey ini menunjukkan bahwa penumpang busway khususnya yang perempuan sangat mendukung gagasan tersebut,? ujar Ketua Instrans Darmaningtyas kemarin. Survei yang dilakukan selama dua hari ini dilakukan di seluruh koridor I?VII dengan menggunakan sistem random sampling (sistem acak).Menurut Darmaningtyas, sebagian besar responden yang setuju memiliki alasan keamanan dan kenyamanan.”Maksudnya aman dari pencopetan dan tindak kriminal lainnya, sedangkan nyaman yakni terhindar dari pelecehan seksual,? lanjutnya. Menurut Darmaningtyas, hasil survei ini nantinya akan menjadi bahan pertimbangan BLU Transjakarta dan Dinas Perhubungan (Dishub) Pemprov DKI Jakarta untuk mengoperasikan bus Transjakarta khusus bagi perempuan.

“Ini merupakan salah satu peningkatan pelayanan bus Transjakarta kepada para pengguna angkutan itu, terutama bagi ibu hamil dan menyusui. Karena itu, kami akan meminta kepada mereka untuk mempercepat pengoperasiannya,? jelasnya.

Saat disinggung mengenai keterbatasan armada, Darmaningtyas mengatakan, pengoperasian bus khusus bagi perempuan bisa dilakukan dengan menggunakan armada yang dimiliki saat ini.

Sebab, dari hasil survei diketahui, 60% pengguna angkutan massal di koridor I?VII umumnya adalah perempuan. “Keterbatasan armada adalah persoalan teknis, jadi tidak harus menuntut penambahan armada,” tandasnya(Sindo Pagi//ahm)

sumber : Okezone




Pengemis dan Nasi Bungkus

3 04 2008

Alkisah ada tiga orang pengemis yang sedang beristirahat sambil merebahkan diri di sebuah emperan toko. Mereka memutuskan berhenti sejenak karena malam sudah begitu larut, ditambah hujan yang turun sangat deras sejak siang hari. Lelah, lapar dan lesu telah membuat mata mereka mengantuk, dan langsung terlelap dalam mimpi.

Saat terbangun dari tidur keesokan harinya, ketiga pengemis itu dikejutkan oleh tiga bungkus nasi hangat yang telah diletakkan oleh seseorang pada saat mereka masih tertidur. Entah siapa yang meletakkan, bagi mereka hal itu tidak begitu penting. Yang ada di pikiran mereka hanyalah nasi hangat itu tentu sangat nikmat disantap.

Pengemis pertama merasa senang luar biasa. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyantap nasi bungkus tersebut dengan lahapnya. Perutnya memang kosong, sejak kemarin belum terisi makanan. Setelah selesai menikmati hidangan nasi bungkus dan merasa kenyang, dia pun kembali tidur. Baca entri selengkapnya »





Ortu Stres Bikin Anak Mudah Sakit

19 03 2008

KEHIDUPAN rumah tangga yang penuh dengan permasalahan seringkali mengundang stres. Tak sedikit orang tua sekarang mengalami tekanan jiwa akibat beban hidup yang sangat berat.

Celakanya lagi, tekanan yang dialami orang tua dapat berpengaruh pada anak-anak. Bahkan menurut sebuah riset, stres yang dialami orang tua dapat menyebabkan anak-anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit.

Seperti yang diungkap para peneliti dari University of Rochester melalui sebuah studi yang dimuat jurnal New Scientiest, tingkat keretanan anak terhadap penyakit relatif tinggi pada anak-anak yang orang tuanya mengalami depresi dan kecemasan. Peneliti juga menemukan adanya kaitan antara stres dengan sistem kekebalan tubuh pada anak-anak.

Sudah sejak lama diketahui bahwa stres dapat menyebabkan perubahan sistem kekebalan tubuh dan membuat seseorang mudah terserang infeksi dan penyakit lainnya. Namun begitu, riset yang juga dimuat dalam jurnal Brain, Behavior dan Immunity ini, adalah yang pertama membuktikan bahwa masalah stres dapat menular atau merembet dari orang tua kepada anak-anak. Baca entri selengkapnya »





Asyik Jalan-jalan di Monas, Tambah Dikalungi Celurit

22 02 2008

Kejahatan di Jakarta ternyata tidak pandang bulu. Seperti yg terjadi di daerah monas.

——————————————————————

22/02/2008 14:29 WIB
Asyik Jalan-jalan di Monas, Tambah Dikalungi Celurit
Nala Edwin - detikcom

Jakarta - Tambah (25) menghabiskan malam nan panjang dengan jalan-jalan di Monas. Pria asal Temanggung, Jawa Tengah, dikalungi celurit dan uang Rp 10 ribu alias ceban miliknya dibawa kabur perampok.

Peristiwa ini berawal saat Tambah sedang jalan-jalan di Monas, Jakarta Pusat pada Kamis 21 Februari 2008 pukul 20.30 WIB.

Tambah yang berjalan tanpa pasangan dan teman ini rupanya dijadikan mangsa empuk Aris Susanto (26) dan Ahmad Wijaya (20).

Dua pria yang berboncengan dengan sepeda motor ini lantas berhenti di pinggir trotoar. Aris lalu turun dari motor. Sedangkan Ahmad stand by di atas motornya.

Aris pun ‘akting’ dengan berpura-pura meminta rokok kepada Tambah. Tambah memberi Aris sebatang rokok. Bukan ucapan terima kasih yang didapat, Tambah justru diancam dengan celurit oleh Aris. Leher Tambah dikalungi celurit. Baca entri selengkapnya »